Tuesday, 09 December 2025

::: Perkembangan Harga Rata-Rata Nasional - Gula Pasir Rp.18.260/kg // Sumber: Badan Pangan Nasional ::: Jangan Lupa Follow Akun Official Sosial Media GAPGINDO: Facebook, Instagram, Youtube, Linkedln : Gapgindo

Dukung Petani & Stabilkan Harga: GAPGINDO Siap Kawal Industri Gula Nasional

GAPGINDO - Gabungan Produsen Gula Indonesia (GAPGINDO) menyelenggarakan serangkaian kegiatan strategis pada hari Jumat, 20 Juni 2025, bertempat di Senayan City, Jakarta. Agenda utama kegiatan ini diawali dengan sesi diskusi bersama Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Ditjenbun), yang membahas berbagai permasalahan krusial dalam industri gula nasional. Fokus utama diskusi tersebut mencakup strategi percepatan investasi dalam sektor agribisnis tebu sebagai langkah konkret untuk mendukung pencapaian target swasembada gula nasional pada tahun 2028. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-II GAPGINDO dalam rangka pemilihan Ketua Umum periode 2025–2028.

Diskusi terbuka tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Ditjenbun, Ir. Baginda Siagian, M.Si., yang menyoroti berbagai tantangan yang tengah dihadapi oleh industri gula nasional. Salah satu isu utama yang dibahas adalah proyeksi produksi gula nasional tahun 2025, yang dinilai cukup menantang dalam rangka mencapai target sebesar 2,9 juta ton. Hal ini terjadi meskipun terjadi peningkatan luas lahan tebu, dari 520,8 ribu hektare pada tahun sebelumnya menjadi 538,2 ribu hektare. Cuaca yang kurang bersahabat, terutama curah hujan yang tinggi sejak awal musim panen, telah menyebabkan gangguan pada distribusi tebu ke pabrik, penurunan rendemen, serta penurunan kualitas gula yang dihasilkan.

Permasalahan tidak hanya terjadi di sektor hulu, melainkan juga pada tingkat industri pengolahan. Tingginya stok gula di tingkat pabrik, serta lambatnya serapan oleh distributor, mengindikasikan ketidakseimbangan rantai pasok. Beberapa distributor bahkan mengajukan harga di bawah Harga Patokan Pemerintah (HPP) sebesar Rp 14.500/kg, sedangkan harga tebu di tingkat petani berkisar antara Rp 750–800/kg. Harga ini berada di atas Biaya Pokok Produksi (BPP) sebesar Rp 7.100/kg. Ketimpangan ini menimbulkan kekhawatiran akan munculnya anomali harga gula, yang berpotensi mengganggu stabilitas industri jika tidak segera diintervensi secara tepat.

Selain permasalahan produksi dan distribusi, diskusi juga menyoroti sejumlah hambatan utama dalam pengembangan investasi sektor agribisnis tebu. Di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap lahan dan pupuk, serta belum optimalnya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada petani tebu. Beberapa regulasi, seperti Peraturan Menteri Perindustrian No. 47/2024, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.81/2017, serta Peraturan Presiden No. 40/2023, dinilai masih menjadi kendala bagi pelaku industri, terutama pelaku dari sektor swasta, dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Menanggapi kompleksitas permasalahan tersebut, Ir. Baginda Siagian menyampaikan bahwa pemerintah tengah merancang sejumlah langkah strategis, antara lain penyediaan lahan baru seluas 200 ribu hektare serta distribusi bantuan pertanian berupa benih, pupuk, dan alat mesin pertanian (alsintan). Pemerintah juga sedang mempersiapkan pembangunan pabrik gula baru serta menjajaki kerja sama dengan investor asing yang menawarkan dukungan teknologi mutakhir.

Selain itu, program KUR khusus untuk sektor tebu sedang dalam tahap finalisasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan alat panen mekanis untuk tebu saat ini tengah menjalani uji coba. Sementara itu, dalam hal pengembangan bioetanol, pemerintah tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan gula konsumsi domestik sebelum melangkah ke pengembangan bioetanol sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).


Syukur Iwantoro Kembali Terpilih sebagai Ketua Umum GAPGINDO

Setelah sesi diskusi, kegiatan berlanjut dengan pelaksanaan Musyawarah Nasional ke-II GAPGINDO yang menetapkan kembali Syukur Iwantoro sebagai Ketua Umum untuk periode 2025–2028. Dalam pidato sambutannya, Syukur menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin GAPGINDO kembali. Ia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan sekaligus menyempurnakan program-program yang telah berjalan pada periode sebelumnya.

“Terima kasih atas kepercayaannya untuk kembali menjadi Ketua Umum GAPGINDO 2025–2028. Saya akan melanjutkan program GAPGINDO yang sudah berjalan. Program yang sudah ada akan dievaluasi; jika dinilai baik, akan dilanjutkan dan dikembangkan. Sementara itu, program yang kurang optimal akan disempurnakan,” ujar Syukur.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengumumkan rencana pelaksanaan studi banding ke beberapa produsen gula terkemuka dunia, termasuk Mitr Phol di Thailand. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari strategi peningkatan daya saing di wilayah tropis yang memiliki kondisi agroklimat serupa. “Dengan lingkungan dan iklim yang tidak jauh berbeda, kami ingin mempelajari bagaimana Mitr Phol dapat menjadi salah satu dari lima produsen gula terbesar di dunia,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, GAPGINDO menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan industri gula nasional yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Diharapkan, sinergi antara pelaku industri dan pemerintah dapat mempercepat tercapainya target swasembada gula konsumsi pada tahun 2027, serta memperkuat pengembangan industri berbasis tebu pada tahun-tahun berikutnya.

Sumber: https://lingkarinews.id/berita/read/gapgindo-dan-ditjenbun-bahas-berbagai-isu-penting-industri-gula-nasional