
Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) optimistis produksi gula nasional tahun ini akan lebih baik
dibandingkan tahun lalu, sebagai dampak dukungan kebijakan pemerintah di sektor hulu. Meski demikian,
Gapgindo menggarisbawahi perlunya langkah antisipatif jangka pendek untuk menjaga stabilitas harga
dan keseimbangan pasokan pada semester pertama 2026.
Berdasarkan proyeksi Gapgindo, dengan asumsi musim hujan berakhir lebih awal yaitu Maret 2026,
produksi gula konsumsi nasional tahun ini akan mencapai 2,8 juta ton. Proyeksi itu meningkat dari realisasi
produksi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 2,69 juta ton. Peningkatan ini didorong oleh beberapa
faktor yaitu perluasan area tebu, perbaikan produktivitas tanaman, dan berbagai program dukungan
pemerintah baik kepada petani tebu, maupun pabrik gula.
Ketua Gapgindo Syukur Iwantoro menyampaikan upaya bersama antara pemerintah, petani tebu, dan
pelaku industri telah membawa tren positif pada iklim gula nasional. “Beberapa tahun terakhir, produksi
cenderung meningkat. Namun pada priode tertentu, produksi terdampak faktor cuaca ekstrem. Perlu
langkah-langkah dini untuk mengantisipasi cuaca, agar stok tetap seimbang,” kata Syukur di Jakarta
(16/1).
Dia menambahkan, program-program pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan
produksi. Program seperti bantuan bongkar ratoon, penyediaan benih tebu, subsidi pupuk, serta subsidi
bunga kredit untuk alat mesin dan pertanian (alsintan) dapat membantu petani meningkatkan
produktivitas dan efisiensi.
Kendati demikian, Gapgindo mencermati potensi adanya dinamika jangka pendek terkait stok dan
konsumsi pada awal 2026. Berdasarkan perhitungan asosiasi, dengan stok gula awal tahun sebesar 1,33 juta
ton dan konsumsi per bulan sebesar 255.000 ton, terdapat potensi tekanan pada suplai gula ke pasar pada
Apil-Mei 2026 sehingga harga di pasar berpotensi meningkat.
“Kami melihat perlunya ada langkah antisipasi jangka pendek agar harga tetap stabil. Stok yang dikelola
cermat dengan data yang tersinkronisasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar kebijakan yang
diambil tepat waktu dan efektif,” tambah Syukur.
Pada tahun lalu, Indonesia juga mencatat kenaikan produksi gula dari 2024 dari 2,47 juta ton menjadi 2,69
juta ton. Sejalan dengan hal tersebut, volume impor gula konsumsi menunjukkan tren penurunan. Pada
2025, impor gula pasir tercatat sebesar 463.000 ton, terendah dalam empat tahun terakhir. Sebelumnya,
Badan Pangan Nasional memperkirakan kondisi stok gula nasional pada awal 2026 berada dalam posisi
yang relatif aman dan menjamin kestabilan harga.
Gapgindo menyatakan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan seluruh
pemangku kepentingan guna menjaga ketersediaan gula nasional, menstabilkan harga, dan berkontribusi
pada penguatan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
