
GAPGINDO - Harga gula dunia kembali bergerak turun pada perdagangan terbaru di tengah tekanan dari melemahnya pasar energi dan meningkatnya pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Walaupun kondisi pasokan saat ini dinilai cukup longgar, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada risiko gangguan produksi akibat fenomena El Niño yang berpotensi memengaruhi hasil panen tebu di berbagai wilayah penghasil gula dunia.
Kontrak gula mentah New York untuk pengiriman Juli mengalami penurunan sebesar 1,06 persen, sedangkan kontrak gula putih London untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,47 persen. Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan merosotnya harga minyak mentah global yang menyentuh level terendah dalam tujuh pekan terakhir.
Penurunan harga minyak menjadi faktor penting yang membebani pasar gula. Saat harga energi turun, nilai ekonomi etanol ikut melemah sehingga produsen cenderung mengalokasikan lebih banyak tebu untuk menghasilkan gula dibandingkan bahan bakar nabati. Kondisi ini meningkatkan potensi bertambahnya pasokan gula di pasar internasional dan menekan pergerakan harga.
Sentimen negatif juga diperkuat oleh prospek produksi yang tinggi dari negara-negara produsen utama. Brasil, sebagai produsen gula terbesar di dunia, mencatat produksi gula wilayah Tengah-Selatan mencapai 2,475 juta ton pada April 2026. Angka tersebut melonjak 55,3 persen dibandingkan dengan periode pada tahun sebelumnya. Peningkatan produksi didukung oleh produktivitas tebu yang lebih baik, tercermin dari kandungan sukrosa yang mencapai 112,58 kilogram per ton tebu atau meningkat sekitar 5,4 persen dibandingkan tahun lalu.
Dari sisi perdagangan, Thailand turut memberikan tambahan tekanan terhadap harga global. Negara yang menempati posisi kedua sebagai eksportir gula terbesar di dunia setelah Brasil itu membukukan ekspor sebesar 1,6 juta ton sepanjang Januari hingga April 2026. Volume tersebut meningkat 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan memperkuat pandangan bahwa pasokan gula global masih relatif melimpah dalam jangka pendek.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya tenang karena risiko cuaca masih membayangi prospek produksi mendatang. El Niño diperkirakan dapat mengurangi curah hujan di Brasil, India, dan Thailand yang merupakan kawasan penghasil gula utama dunia. Penurunan curah hujan berpotensi menghambat pertumbuhan tebu dan menekan hasil panen pada musim berikutnya.
Di India, badan meteorologi setempat telah memangkas proyeksi curah hujan monsun periode Juni hingga September menjadi 90 persen dari rata-rata historis, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 92 persen. Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat memperkirakan peluang munculnya El Niño pada periode Mei hingga Juli mencapai 82 persen. Bahkan terdapat kemungkinan sebesar 67 persen terjadinya El Niño kuat atau Super El Niño yang dapat bertahan hingga akhir tahun.
Walaupun awal musim menunjukkan hasil yang cukup baik, sejumlah lembaga memperkirakan produksi gula Brasil akan melemah pada musim 2026/2027. Conab memperkirakan produksi gula negara tersebut turun 0,5 persen menjadi 43,95 juta ton. Di saat yang sama, produksi etanol diproyeksikan meningkat 7,2 persen. Perkiraan serupa juga disampaikan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang memprediksi produksi gula Brasil turun sekitar 3 persen menjadi 42,5 juta ton karena sebagian bahan baku tebu diperkirakan dialihkan ke produksi etanol.
Perubahan alokasi tebu antara kebutuhan gula dan bioetanol menjadi salah satu faktor yang sangat diperhatikan pasar karena berpengaruh langsung terhadap keseimbangan pasokan global. Jika lebih banyak tebu digunakan untuk etanol, ketersediaan gula di pasar internasional dapat berkurang.
Berbeda dengan Brasil, prospek produksi gula India justru menunjukkan perkembangan yang lebih positif. Hingga pertengahan April 2026, produksi gula negara tersebut mencapai 27,48 juta ton atau meningkat 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Asosiasi Produsen Gula dan Bioenergi India (ISMA) memperkirakan total produksi nasional pada musim 2025/2026 mencapai sekitar 32 juta ton. Selain itu, India diperkirakan mampu mengekspor sekitar 800 ribu ton gula.
USDA bahkan memproyeksikan India akan kembali mencatat surplus gula sebesar 2,5 juta ton pada musim 2026/2027. Jika proyeksi tersebut terwujud, surplus itu akan menjadi yang pertama setelah dua tahun terakhir pasar domestik India mengalami tekanan pasokan.
Secara global, Organisasi Gula Internasional (ISO) memperkirakan produksi gula musim 2025/2026 mencapai rekor 182 juta ton, naik 3,5 persen dibandingkan musim sebelumnya. Lembaga tersebut juga meningkatkan estimasi surplus gula global menjadi 2,2 juta ton dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,22 juta ton.
Namun, untuk musim 2026/2027, ISO memperkirakan produksi dunia turun menjadi sekitar 180 juta ton dan berpotensi mengalami defisit sebesar 262 ribu ton akibat dampak El Niño terhadap produksi di India dan Thailand. Perbedaan pandangan di antara berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa arah pasar gula masih belum pasti. Di satu sisi, peningkatan produksi dan ekspor dari sejumlah negara masih menekan harga. Di sisi lain, risiko cuaca dan perubahan iklim dapat dengan cepat mengubah keseimbangan pasokan global dan memengaruhi pergerakan harga pada periode mendatang.
