
Foto/Dok: GAPGINDO
GAPGINDO - Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) memaparkan rancangan Roadmap Swasembada Gula dan Bioetanol 2030 dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM di Jakarta pada pekan lalu. Kegiatan tersebut menjadi salah satu forum untuk membahas langkah strategis dalam memperkuat industri gula nasional sekaligus mendorong pengembangan bioetanol sebagai bagian dari agenda ketahanan energi.
FGD tersebut melibatkan perwakilan dari sepuluh kementerian. Keterlibatan berbagai kementerian menunjukkan bahwa pencapaian kemandirian gula dan pengembangan industri bioetanol tidak dapat dilakukan secara terpisah oleh satu sektor saja. Diperlukan keterhubungan kebijakan, investasi, produksi, distribusi, hingga pengembangan energi agar seluruh tahapan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Ketua Gapgindo, Syukur Iwantoro, menjelaskan bahwa roadmap yang disampaikan dalam forum tersebut membawa gagasan mengenai perubahan arah industri tebu nasional. Menurutnya, industri tebu perlu ditransformasi dari pola pengelolaan yang masih konvensional menuju sistem industri yang lebih terintegrasi, efisien, produktif, dan memiliki daya saing yang kuat.
Syukur mengatakan transformasi tersebut sekaligus ditujukan untuk menjawab kebutuhan gula dalam negeri. Pengembangan industri tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi gula konsumsi, tetapi juga mencakup penguatan produksi raw sugar di dalam negeri, pemanfaatan molases, serta pengembangan bioetanol sebagai produk turunan tebu.
“Usulan ini juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gula nasional dengan mengintegrasikan pengembangan raw sugar domestik, molases, hingga bioetanol,” ungkap Syukur, Senin (24/8).
Dalam roadmap yang disusun Gapgindo, sejumlah target produksi telah ditetapkan untuk dicapai pada 2030. Produksi tebu nasional ditargetkan dapat mencapai 58,4 juta ton. Bersamaan dengan itu, produktivitas tanaman tebu diharapkan meningkat hingga 88 ton per hektare. Peningkatan produktivitas tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk menopang pertumbuhan produksi gula nasional tanpa hanya mengandalkan perluasan lahan.
Dari sisi pengolahan, Gapgindo menargetkan produksi raw sugar domestik dapat mencapai 3,2 juta ton. Sementara itu, produksi gula dalam negeri ditargetkan berada pada level 5,8 juta ton pada 2030. Sasaran tersebut disusun dengan mempertimbangkan proyeksi kebutuhan dan konsumsi gula nasional dari tahun ke tahun.
Dengan memperhitungkan perkembangan kebutuhan domestik tersebut, roadmap Gapgindo diarahkan agar Indonesia mampu mengakhiri ketergantungan terhadap impor gula pada 2030. Pencapaian target tersebut tentunya membutuhkan peningkatan kinerja di seluruh rantai industri, mulai dari sektor budidaya tebu, pengolahan di pabrik, hingga distribusi produk kepada konsumen.
Roadmap yang dipaparkan dalam FGD juga tidak hanya berisi target produksi. Dokumen tersebut dilengkapi dengan analisis terhadap berbagai risiko yang berpotensi menghambat pencapaian sasaran. Selain itu, terdapat langkah mitigasi serta instrumen pengendalian yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan setiap tahapan.
